Mengais Rezeki dengan Menikah (2)

Kisah nyata motivasi menikah

Namanya Mas Ahlihi seorang dosen praktikum yang dipercayai mengelola suatu usaha Kursus cabang IT. Sebelumnya usaha yang dibangun oleh dua dosen AMIKOM yang saling investasi tetapi gagal yang waktu itu dikelola oleh beberapa lulusan AMIKOM juga. Setelah dipegang oleh Mas Ahlihi aturan yang semula biaya operasional semaca listrik ditanggung investor sekarang dilepas. Beban itu juga yang membuat keuangan merosot. Pasalnya selama bulan pertama usaha itu tidak mendapatkan apa-apa, malahan laporan keuangan minus.

Beberapa bulan laporan keuangan minus –kira-kira akhir 2007an. Mau tidak mau itu harus dilaporkan ke investor. Setelah mikir-mikir lagi sambil merenung terlintas dibenak Mas Ahlihi “rezeki belum lancar, mungkin nikah kali ya!”. Pikiran itu dilontarkan kepada pacarnya Mbak Lina yang juka satu angkatan dan almamater sekaligus membantu usaha itu. “Iya juga ya, mungkin kita waktunya menikah ini. Kita sudah lima tahun pacaran. terlalu lama pacaran”.

Akhirnya dengan modal nekad, Mas Ahlihi melamar ke Ibu pacarnya –karena ayah sudah meninggal. Setelah bla-bla-bla dengan ibunya serta dikerjain ibunya yang hobi melihat extravaganza itu Mas Ahlihi dikasih wejangan supaya orangtuanya dibawa kesini untuk melamar secara resmi. Kemudian setelah itu dua minggu melamar resmi diadakan.

Setelah niat dan dibarengi lamaran itu barulah Alloh membukakan sedikit demi sedikit pintu rezeki. Anak SD tetangga sebelah yang hendak ujian CorelDraw di sekolah yang pertama daftar belajar CorelDraw. Mas Ahlihi memberikan diskon habis-habisan sepuasnya karena pelanggan pertama. Setelah itu klien demi klien berdatangan.

Semakin dekat waktu mendekati hari H pernikahan klien semakin lumayan. Pendapatan demi pendapatan naik sehingga tidak ada kata minus lagi. Akhirnya besok Ahad tanggal 11 Mei 2008 mereka –Mas Ahlihi dan Mbak Lina– menikah di rumah Mbak Lina di Perumnas Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. (Riwayat Piko dari Mas Ahlihi)

Satu Balasan ke Mengais Rezeki dengan Menikah (2)

  1. […] kepala empat. Berdua kita membahas pentingnya modal nekad dan manajemen mental untuk menikah. Dan Mas Ahlihi juga termotivasi untuk menikah karena sebuah cerita dari temennya Mas Kukuh yang dulu juga anak AMIKOM yang tinggal di Masjid […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: