Hadits KeTigaPuluh Sembilan

Ust. Ridwan Hamidi, Lc
MasKam UGM, 14.30, 4 Mei 2008

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

[حديث حسن رواه ابن ماجة والبيهقي وغيرهما]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku karena aku (disebabkan beberapa hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang dipaksa“

Status Hadits:

  • Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya.
  • Hadist Shohih, dishohihkan oleh sbagian ulama Ahlus Sunnah. Imam Al-Albani mengatakan shohih.

Alloh memaafkan umat Muhammad Shalallohu ‘alayhi wasalam:

  • Kesalahan (keliru)
  • Kelupaan
  • Dipaksa

Hadits ini mencakup banyak bab fiqih dan hadits ini memiliki keutamaan besar.

Hadits-hadits Arba’in Nawawi cakupan bahasannya luas dalam Sholat, Shaum, Zakat, Haji, Fiqih, Aqidah, Akhlaq, dll. Contoh : Hadits Arba’in ke-1 cakupannnya fiqih, aqidah, dll karena masalah niat

Imam Nawawi Rohimahulloh berkata : Keutamaan hadits ke-39 mencakup banyak faedah dan hal-hal penting.

Kesalahan (keliru) : Seperti orang yang keliru / tidak sengaja membunuh seseorang (tanpa niat membunuh) tidak ada dosa dihadapan Alloh tetapi mendapat denda (diyat) dihadapan manusia.

Ibnu Hajar yang dikenal khususnya imam ada dua.

  • Ibnu Hajar al-Atsqolani adalah pensyarah Shohih Bukhori dengan Fatul Baari’-nya dan terkenal dengan kisah Ibnu Hajar dengan Batu.
  • Ibnu Hajar Al-Haikami yang akan menjelaskan masalah hadits ke 39 ini

Ibnu Hajar Al-Haikami : Hadits ini (ke-39) manfaatnya bersifat umum/luas karena 3 hal (keliru, lupa, dipaksa). Bisa terjadi pada semua bahasan fiqih. Hadits yang sangat panjang maknanya ini layak dikatakan Setengahnya syariat Islam. Karena perbuatan manusia yang berasal dari kesengajaan dan dengan ikhtiarnya (pilihannya) atau perbuatan yang dipaksa tanpa pilihan.

2 pembagian syariat:

  1. Dengan pilihan / kesengajaan
  2. Tanpa pilihan / tanpa kesengajaan (dipaksa atau lupa/tanpa kesadaran)

Semua Al-0ur’an, ayatnya berderajat Mutawattir. BErbeda dengan hadits.

MEnetapkan kitab suci dengan rapat dan musyawarah maka rusaklah agamanya. Seperti orang Nasrani terhadap Bible.

“Asyhaduala ila hailalloh, Wa Asyhadu ana Muhammadan ‘Abduhu wa Rosuluhu”

kata ‘Abduhu dan Rosuluhu yang ditujukan / mengarah kepada Muhammad Shalallohu ‘alayhi wasalam memiliki makna yang akan mengkonter Yahudi dan Nasrani. Yang dengannya Islam tengah-tengah diantara keduanya itu.

  • ‘Abduhu : untuk mengkonter orang Nasrani yang mendewakan/menuhankan Nabinya. Bahwa Muhammad Shalallohu ‘alayhi wasalam adalah Abdi/Hamba Alloh bukan Alloh atau Bagian dr Alloh seperti dalam trinitas ; 1 Bagian dr 3, 3 bagian dari 1) apalagi anaknya, atau pamannya, atau orangtuanya atau kakaenya atau yang lainnya.
  • Rosuluhu : untuk mengkonter orang Yahudi yang sering menyepelekan Nabi-nabinya sehingga setiap ada Nabi yang diutus mereka, mereka selalu mengingkari /tidak mentaatinya bahkan membunuhi mereka semua. karena mereka beranggapan Nabi adalah hamba yang manusia seperti kita, dia makan kita juga makan, dia buang hajat dia juga buang hajat, dia tidur kita juga tidur, dll. Makanya tidak heran membunuh bangsa Palestina saja mudah saja, sama Nabi-nabi aja mereka biasa. Maka syahadat ini menegaskan walaupun Muhammad Shalallohu ‘alayhi wasalam adalah seorang hamba tapi beliau adalah utusanNya berbeda dengan manusia yang lain. Derajatnya lebih tinggi.

PERTANYAAN:

1. Tentang Walisongo. Berdakwah dengan alat-alat musik bgmana?

  • Masalah walisongo sumber yang otentik sangat terbatas. Bahkan sebagian sumber yang otentik berbahasa jawa yang berada di BElanda. Sedangkan di sini ceritanya dari mulut ke mulut. Seperti kata-kata “dari mbah saya” atau “Katanya mereka dahulu berdakwah dengan musik”
  • Menentukan Aqidah seseorang dengan “Katanya…” itu susah.
  • ‘Allohu a’lam.

2. Bersalaman dengan wanita bukan Mahrom seperti di acara kumpulan keluarga besar? Apakah ini termasuk kategori terpaksa?

  • Kalau makna terpaksa itu kondisinya kita betul-betul tidak mempunyai pilihan dan terancam nyawanya/jiwanya. Ada batasan darurat.
  • Kita tidak boleh melebarkan makna dalam syariat seperti masalah darurot.
  • Darurot :
  1. Jika nyawa terancam
  2. Sesuai kadar kebutuhan

3. Bagaimana jika ada orang yang tidak mengetahui perbuatan bid’ah tetapi tidak mau berusaha mengetahuinya?

  • Dia tetap berdosa karena dia tidak mau mencari tahu ilmunya. Mencari ilmu / ngaji itu wajib.
  • Ilmu yang wajib bagi setiap muslim adalah ‘Ibadah dan Mu’amalah

” Tholabul ‘ilmu ‘ala faridotun Muslim” (Shohihul Muslim)

  • Dengan hadist diatas dapat dikatakan (contoh) :
  1. Setiap muslim yang masuk bulan Romadhon wajib mempelajari hal-hal tentang Shaum dan Ibadah Romadhon.
  2. Yang akan melakukan ibadah haji pergi ke tanah suci wajib belajar manasik, dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: