Piko Anak Penakut

Hari ini ane dapet link dari Mbah Google, ketika mau ngecek SEO blog baru ane yang isinya khusus koleksi buku-buku dirumah. Ane nemu blog isinya kebanyakan cerita anak-anak. Anah salah satu post adalah cerita yang katanya diambil dari Majalah Dolan, Majalah Gratis untuk anak SD, tokoh utamanya dengan memakai nama ane. Ini ceritanya:

Piko adalah anak yang baik, namun sayang dia sangat penakut. Sehingga seringkali diejek oleh teman-temannya karena sifatnya itu. Piko menjadi tidak punya teman dan lebih senang bermain sendiri. Dia sering mengurung diri dalam kamar dan membaca banyak buku cerita yang disediakan ibunya. Piko merasa kamarnya adalah kamar ternyaman yang dapat membuat dia berani.

Suatu hari kedua orang tua Piko harus pindah pekerjaan ke kota lain. Suasana kota yang baru sangat tenang dan aman. Rumah baru mereka pun begitu indah dan luas. Tapi, Piko yang penakut merasa tempat baru adalah tempat yang selalu menakutkan.

Piko mendapat kamar baru berwarna biru. Jendelanya besar, ada teras yang menghadap ke taman, dan uniknya kamar itu mempunyai dua lantai. Lantai di atas berupa loteng dengan tangga yang dapat ditarik jika kita ingin menaikinya. Tapi bagi Piko kamar loteng pasti menyeramkan. Dan firasat Piko benar! Setiap malam Piko mendengar derap langkah kecil di kamar lotengnya. Piko menjadi tidak bisa tidur dan gemetaran. Piko juga bertekad untuk tidak melongok ke atas kamar loteng.

Ketakutan Piko yang berlebihan, menarik perhatian peri Amaranggana. Peri pemberi rasa berani pada anak-anak. Suatu malam, peri Amaranggana datang ke kamar Piko.

“Hai, Piko. Senang dengan kamar barumu?”, Tanya peri Amaranggana ramah.

“Aaah! Siapakah kau?”, Piko terkejut dan bersembunyi di balik selimutnya.

“Aku, Amaranggana. Peri pemberi rasa berani”, jawab peri Amaranggana.

“Benarkah?”, mata Piko berbinar dan mulai membuka selimutnya perlahan. Piko pernah mendengar tentang peri pemberi rasa berani. Jadi, beruntunglah jika peri ini datang padanya.

“Bagaimana jika kita melihat ke kamar loteng? Bukankah kau belum pernah kesana?”, Tanya peri Amaranggana.

“Tidak! Kamar loteng itu menyeramkan! Aku tidak mau melihat kedalamnya!”, Piko menolak dan menutup mukanya.

“Kau belum membuktikannya, Piko. Bagaimana kau bisa mengatakan kamar itu menyeramkan?”, ujar Peri Amaranggana.

“Kudengar suara langkah kaki kecil setiap malam, dan gemerisik halus yang misterius! Hiii!”, Piko berkeras.

“Suara derap seperti, tap..tap..tap, lalu gemerisik seperti krsskk..krssskk? Begitu?”, peri Amaranggana bergerak lucu. Piko tertawa.

“Ya, ya! Bagaimana kau tahu?”, Piko ingin tahu.

“Kalau kau ingin tahu, mari kita naik!”, ajak sang peri.

“Tapi..!”, sebelum Piko menjawab, peri Amaranggana menggandeng tangan Piko. Dan segera menarik tangga kamar loteng. Perlahan mereka menaiki tangga dengan hati-hati. Ketika tiba di atas, tampaklah kamar mungil yang berdebu. Tidak ada apa-apa. Peri Amaranggana menyalakan lampu kecil. Dan apa yang mereka lihat?

Di sudut kamar dekat jendela, ada sekeluarga burung gereja yang bersarang di situ. Mereka tampak sibuk melindungi anak-anak mereka yang kedinginan. Suara kaki mereka, tap..tap..tap! Seperti yang sering di dengar Piko. Dan apabila mereka menggerakan sayap maka, krsskk…krssskk…sarang mereka yang terbuat dari jerami bersuara terkena gesekan. Oo!

Piko tersenyum lega sekaligus tersadar. Bahwa selama ini dia hanya bermain dengan bayang-bayang ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Dia segera mengambil kain lembut untuk selimut para bayi burung gereja itu.

Keesokan harinya, Piko membersihkan kamar loteng. Rupanya jendela tidak tertutup rapat sehingga burung gereja bisa menyelinap masuk ke situ. Kamar itu kini menjadi ruang bagi buku-buku Piko. Teman-teman Piko sering belajar dan membaca bersama di situ. Piko tidak lagi kesepian dan ketakutan. Piko sangat berterima kasih pada peri Amaranggana. Dan sarang burung gereja tetap aman di tempatnya, tap..tap..tap, krsskk..krsskk.

Sumber: Blognya mbak Vanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: