Kepastian yang Tidak Pasti!

Kemarin hari sabtu (2/6/7) habis sholat ashar, ane buru-buru pulang sehabis di telpon sama adek ane kalo bapak ane sakit & jatuh di kamar mandi. Padahal waktu itu ane masih standby di UPeTe, & rencananya bimbing anak^2 latihan thifan jam 4an di ruang 12. So, ane batalin aja latihannya.

Di jalan habis mampir ke SPBU, hati & perasaan ane ga keruan. Tapi setelah dzikir^2 sebentar hati ane tenang terus pikiran+hati ane mengatakan kalau bapak ane meninggal, ane ikhlas & siap karena setiap yang hidup pasti mati. Dan kematian adalah pasti!

Di rumah sudah sepi, tinggal adik cowok yg paling bungsu. Katanya sih bapak sudah dibawa ke rumah sakit. Tiba^2 ponsel ane berdering, adik cewek ane telepon, ane disuruh ke RS PKU. Setelah itu banyak orang berdatangan & langsung bersih-bersih rumah ane.
Sebagian ibu^2 bertanya pada ane, yg intinya tentang kebenaran kematian bapak. Ane cuma bilang yg ane tau bahwa bapak jatuh & sakit. Karena ga’ enak sama tetangga^2 yg pada bersih^2 rumah ane yg kaya mau ada hajatan aja, ane ga’ jadi nyusul ke rumah sakit. Barang^2 hobi bapak ane –pupuk buat tanaman hias– yang menumpuk berantakan di halaman dan garasi pada dipindahi.Tiba^2 sebuah ambulan berhenti di depan rumah diikuti adik cewek ane dgn motor dibelakang. Ada raut muka menangis dari wajahnya dan dibarengi suara tangis dari dalam mobil, yah… itu suara mamahku. Benar dugaan ane….innalillahi wa innailahi roji’un… Bapak ane meninggal. Bersama sebagian orang ane mengangkat jasad bapak.

Selanjutnya ane ga akan bercerita lagi. Cuma yg ane sedihkan terlalu banyak penyimpangan, kemungkaran, kebid’ahan yg ane ga’ bisa melawan dengan tubuh ini. Hanya dengan hati yg ane bisa. Mbah, Om^2 ane dan warga yang mengurus semuanya, seakan-akan ane ga berhak dan ga punya suara. Hanya saja ane punya satu pelega hati, ketika jasad bapakku sudah di dalam liang yg berbentuk bid’ah, ane dan ane disuruh meng-adzan, ane punya kekuatan untuk menolaknya. Alkhamdulillah, walaupun cuma satu Alloh menolongku. Ane berpikir dan berazzam serta berdo’a, agar ane mati dirituali dengan cara syar’i dan sunnah Rasululloh صلُّوا عليهِ وسلِّموا تسْليماً.

Terimakasih temen^2 ane semua yg telah datang & mengantarkan bapak ane. Dan Semua yang telah mendo’akan, memaafkannya, dan men-takziah kami.

**kejadian sebenarnya bukan bapak ane jatuh tetapi: pagi hari bapak hunting cari tanaman di Bantul –sering sih pameran tanaman hias– setelah pulang diajak temennya makan soto. Siangnya mengeluh sakit di dada (sesak) terus merasa mules (dipikir masuk angin) terus minta dikerokin. Masuk WC – ke kamar (sambil dzikir-dzikir) -balik ke kamar mandi lagi …. sayangnya di dalam kamar mandi bapak ga kuat berdiri dan setengah pingsan. Mama dan Adik cewek teriak minta bantuan untuk mengakat bapak. Di halaman tengah –kata adek– badannya masih anget. Setelah itu mama minta dianter sama tetangga yang punya mobil ke RSU Sardjito. Tapi ketika dijalan sudah ga kuat, akhirnya sang sopir –tetangga– inisiatif cari RS terdekat yaitu RS PKU Muhammadiyyah. Sampai di UGD sudah ga tertolong lagi– dipacu terus tapi nihil. Grafiknya dari bergelombang panjang dan pelan berubah menjadi garis lurus.

Satu Balasan ke Kepastian yang Tidak Pasti!

  1. rudyhy mengatakan:

    innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun
    Sungguh hanya milik Alloh apa-apa yang Dia ambil, sama juga apa yang Dia berikan adalah milikNya, segala sesuatu adalah hanya milikNya, dan pasti ada batasnya sampai ajal yang telah ditentukan, maka sabarlah dan mohonlah pahala atas musibah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: