Dengan Meraih hasil pencariannya itu ia akan merasa mendapat kesempurnaan.
Cintalah yang menggerakkan pecinta Ar-Rohman, pecinta Al-Qur’an, pecinta Ilmu dan Iman, pecinta barang perniagaan dan uang, pecinta berhala dan salib, pecinta wanita atau remaja pria, pecinta anak-anak, dan pecinta saudara; sehingga membangkitkan energi yang bersumber dari hati menuju apa pun yang dicintainya.
Tapi Ketika apa yang dicintainya itu disebut-sebut, kontan hatinya tergugah dan menggeliat hebat, batin dan lahirnya pun bergerak mengejarnya dengan penuh kerinduan, bahkan ia akan sangat berbahagia mendengar ’sang kekasih’ disebut-sebut.
Semua kecintaan di sini tentu saja bernilai kepunahan, kecuali kecintaan kepada Alloh dan kepada apa saja atau siapa saja yang membantu proses kecintaan kepadanya-Nya, seperti cinta kepada Rosul-Nya, Kitab-Nya, agama-Nya, dan wali-Nya, juga kepada kaum muslimin seluruhnya.
Inilah cinta Abadi.
Abadi buah dan kenikmatannya, karena keabadian Dzat yang menjadi tumpuan cinta.
(Ighaatsatul Lahfaan – Imam Ibnu Qoyyim, I:132)















Juni 21, 2008 pukul 3:34 am |
Subhanallah… La hawla wa la quwwata illa billah…