Seri Kisah nyata motifasi menikah
Suatu hari ada seorang pemuda kurang terpelajar dengan kata lain bodo yang tinggal di Bantul, DIY mencari pekerjaan di kota Jogja. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga rental PS (Play Station) di Condong Catur tepatnya di selatan toko Pamella 6. Karena kendaraan yang dimilikinya hanyalah sepeda onthel, dia ngonthel alias mengayuh sepedanya dari Bantul sampe Condong Catur Sleman.
Seiring waktu berjalan dia curhat sama salah seorang kenalannya bernama Mas Kukuh, mahasiswa AMIKOM yang tinggal di Sebuah Masjid.
“Mas, aku iki pingin nikah. Mbok ya o dicarikan bojo (istri). Yang seperti apa aja aku mau. Yang penting mau diajak rekoso (susah)”
Mas Kukuh akhirnya mencarikan calon Istri buat pemuda itu. Akhirnya Mas Kukuh mendapati seorang wanita yang juga memintanya mencarikan suami untuk dia.
“Mas tolong saya carikan bojo (suami). Siapa aja mau yang penting mau rekoso (susah) dan mau bekerja keras”
Tanpa pikir lagi Mas Kukuh menjodohkan mereka berdua. Walaupun mereka berdua belum mengetahui orangnya mereka setuju untuk dinikahkan. Akhirnya Mas Kukuh melamarkan pemuda tadi ke wanita itu.
Proses pernikahan dilakukan sangat sederhana. Kira-kira sang pemuda mengeluarkan uang tidak sampai dari Rp.500.000,-. Sampai pernikahan selesai sang pemuda tadi hanya mengantongi uang Rp.50.000,-. Modal itulah untuk mereka memulai rumahtangga.
Setiap waktu sang pemuda yang menjadi suami bekerja di rental PS seperti biasa. Seiring waktu, dalam waktu hanya 3 bulan, pemuda tadi akhirnya bisa membeli sebuah motor. MasyaAlloh wa ShubhanAlloh. Alloh membukakan rizkinya bagi orang yang menikah.
Sampai sekarang sang suami itu masih bekerja sebagai penjaga Rental PS di selatan Toko Swalayan Pamella 6. Mumkin, setahun depan sang suami itu punya mobil atau bahkan punya usaha sendiri. Allohu a’lam. (Riwayat Ahlihi dari Mas Kukuh)















Mei 15, 2008 pukul 11:45 pm |
[...] dan manajemen mental untuk menikah. Dan Mas Ahlihi juga termotivasi untuk menikah karena sebuah cerita dari temennya Mas Kukuh yang dulu juga anak AMIKOM yang tinggal di Masjid menjadi tukang bersih-bersih [...]